“Rampokan Jawa” di Rumah Seni Yaitu
Oleh
Yudi Wijanarko
SEMARANG – Selama ini kita hanya menikmati komik sebagai bagian kecil bacaan saja ketika kita membaca ko-ran, tabloid, atau majalah. Seperti sebuah selingan, komik pun “dibaca” selintas.
Karena bersumber dari imajinasi penciptanya dan lebih sering hanya berupa cerita fiktif, posisi komik benar-benar tak lebih dari selingan atau penghibur, di sela kita menikmati berita atau artikel di surat kabar.
Komik yang satu ini agaknya berbeda dengan komik kebanyakan. Selain berisi tentang sejarah (dan itu berarti nyata alias tidak fiktif) komik yang ini juga sudah dibukukan. Seperti sebuah buku sejarah, tapi wujudnya komik. Yah, itulah Rampokan Jawa karya Peter van Dongen. Buku komik ini memang sudah bisa kita nikmati di toko-toko buku. Tapi bagaimana jika ia berada di sebuah pameran dalam rumah seni?
Itulah yang akan terjadi di Rumah Seni Yaitu, Jalan Kampung Jambe 280 Semarang mulai Jumat, 14 Oktober 2005 pukul 19.30 WIB besok. Yah, di rumah seni milik penggiat seni Semarang Tubagus P Svarajati itu, bersama karya komikus lain seperti Dwi Santoso, Dwinita Larasati, Muhammad Cahya Daulay, dan Beng Rahardian, Rampokan Jawa akan dipamerkan hingga tanggal 31 Oktober 2005.
Tubagus P Svarajati kepada SH mengatakan selama ini komik dikenal sebagai ragam bacaan pelipur kesenggangan saja. Isi cerita komik bermacam-macam. Ada yang mengisahkan roman, fabel, hikayat, legenda, dan sebagainya. Cerita ditujukan untuk kalangan anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.
Dalam satu lembar halaman komik, katanya, ada beberapa panel sebagai pembabakan ceritanya. Juxtaposition (penjajaran) itu sekarang tidak lagi berkesan konvensional; komik-komik sejenis manga Jepang bisa dilihat sebagai contohnya. Halaman komik, akhirnya, menjadi sangat dinamis sejurus dengan alur ceritanya.
“Namun sangat jarang komik yang ditulis berdasar kisah nyata atau setidaknya dengan latar sejarah/lokasi kejadian yang jelas. Untuk hal yang satu ini faktor riset menjadi sangat penting. Contoh komik sejenis ini ialah Rampokan Jawa karya Peter van Dongen,”kata Tubagus, di Semarang, Rabu (12/10).
Memang, Rampokan Jawa (1998) adalah sebuah komik berlatar kisah nyata. Ia mengisahkan secuplik perjuangan kemerdekaan masyarakat Indonesia melawan agresi penjajah. Tokoh utamanya Johan Knvel, tentara Belanda yang kembali ke Indonesia tahun 1946, yang memiliki agenda pribadi mencari ibu asuhnya yang penuh kasih sayang, Babu Ninih.
“Meneer van Dongen menggambar dengan garis-garis yang hemat, linier, menyerupai gaya komik Tintin karya Herge. Seluruh lokasi, bangunan, suasana Indonesia tahun 1940-an digambarkan dengan sangat persis dan detai,” kata Tubagus.
Pengarang Indo-Belanda ini, lahir tahun 1966 dari seorang ibu Cina-Maluku, melakukan sejumlah riset yang mendalam sebelum menggambarkan imajinasinya. Alhasil, karyanya itu meraih penghargaan untuk desain buku terbaik di Belanda tahun 1998. Setahun kemudian dihadiahi Stripschappening sebagai buku komik terbaik. Juga, diberi penghargaan “Prix du Lion” di Brussels.
Menyusuli kesuksesan buku Rampokan Jawa, maka Van Dongen mengarang sekuel berikutnya, yaitu Rampokan Celebes tahun 2004. Komik Rampokan Jawa versi Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Primatama bekerja sama dengan Komunitas Komik Alternatif, tahun 2005.
Menyinggung pameran hasil kerja sama antara Rumah Seni Yaitu dengan Erasmus Huis dan Widya Mitra itu Tubagus mengatakan, pameran terbuka untuk umum dan buka setiap hari, kecuali hari libur mulai pukul 10.00–17.00 WIB. Selain pameran, acara tersebut juga akan diisi diskusi tentang komik.
Acara diskusi akan berlangsung Jumat, 21 Oktober 2005, pukul 19.30 WIB dengan pemakalah Wahyudin, seorang kurator seni rupa independen di Yogyakarta.
Copyright © Sinar Harapan 2003